Bagi yang memerlukan artikel full text bisa mengirimkan email ke mkb_fkunpad@yahoo.com atau telepon ke (022) 61039773

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday286
mod_vvisit_counterYesterday371
mod_vvisit_counterThis week286
mod_vvisit_counterLast week2618
mod_vvisit_counterThis month8375
mod_vvisit_counterLast month12970
mod_vvisit_counterAll days350691

Online (20 minutes ago): 6
Your IP: 38.107.179.219
,
Today: May 20, 2012

Polls

Bagaimana dengan website ini?
 

Photo

Selamat Datang di Website MKB
Susunan Redaksi Majalah Kedokteran Bandung PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 16 December 2008 13:01
PelindungDekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
PenasehatPembantu Dekan II
Penanggung Jawab Dr. Tono Djuwantono, dr., Sp.OG(K)., M.Kes
Redaksi Senior 
Prof. Herry Garna, dr., Ph.D., Sp.A(K)
Pemimpin RedaksiDr. Budi Setiabudiawan,dr., Sp.A(K)., Mkes
Sekretaris Redaksi
Yanni Melliandari Achmad, dr., M.Kes 
Anggota Redaksi

Dr. Sri Endah Rahayuningsih,dr., Sp.A(K)
Dr. Henni Djuhaeni,dr., MARS 
Dini Norviatin, dr.
Marisa Tasya, dr., Sp.OG 

Sekretariat

Ede Sasmita, ST
Indrianti A.Md
Ira Andriati A.Md
Rahadian, S.sos

Last Updated on Wednesday, 25 January 2012 09:15
 
Efek Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.) dan Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap Sensitivitas Insulin pada Tikus Galur Wistar PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 25 January 2012 08:50
Evi Sovia, Elin Yulinah Sukandar, Joseph I. Sigit, Lucy Dewi N. Sasongko
Sekolah Farmasi ITB


Abstrak

Ekstrak kunyit dan bawang putih telah diketahui mempunyai efek antidiabetik, tetapi mekanisme kerjanya belum diketahui. Penelitian ini mengamati efek tiga ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dan bawang putih (Allium sativum L.), yaitu ekstrak heksan, etil asetat, dan etanol terhadap kadar glukosa darah dengan tes toleransi glukosa. Selanjutnya, ekstrak yang paling efektif dan komponen aktifnya (kurkuminoid dan S-metil sistein) diuji dengan tes toleransi insulin. Empat puluh ekor tikus galur Wistar dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu kelompok normal, kelompok yang hanya diberi emulsi tinggi lemak (kontrol), dan sisanya selain diberi emulsi tinggi lemak juga masing-masing diberi ekstrak kunyit dengan dosis 50 mg/kgBB, ekstrak bawang putih dengan dosis 50 mg/kgBB, kurkuminoid dengan dosis 25 mg/kgBB, S-metil sistein dengan dosis 25 mg/kgBB, kombinasi ekstrak kunyit-bawang putih dengan dosis masing-masing 25 mg/kgBB, dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein dengan dosis masing-masing 12,5 mg/kgBB selama 10 hari. Resistensi insulin dievaluasi dengan tes toleransi insulin. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus–Oktober 2010 di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KTTI (konstanta tes toleransi insulin) hewan kelompok ekstrak bawang putih (7,2±0,84), kurkuminoid (7,14±0,74), dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein (7,46±0,64) secara bermakna (p<0,05) lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol positif (3,2±1,92). Simpulan, ekstrak bawang putih, kurkuminoid, dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein meningkatkan sensitivitas insulin. [MKB. 2011;43(4):153–9].

Kata kunci: Ekstrak bawang putih, ekstrak kunyit, tes sensitivitas insulin 


Effect of Turmeric Extract (Curcuma longa L.) and Garlic Extract (Allium sativum L.) on Insulin Sensitivity


Abstract

Studies have shown the antidiabetic effect of turmeric and garlic. However their mechanism of action remain unknown. In this study, we investigated the effect of three turmeric (Curcuma longa L.) and garlic extracts (Allium sativum L.), that are, hexane, ethyl acetate and ethanol extract on blood glucose levels with glucose tolerance test. Furthermore the most effective extracts and its active compound (curcuminoid and S-methyl cysteine) tested with insulin tolerance test. Forty Wistar rats were divided into 8 groups that was normal group, group that treated with a high fat emulsion (control group) and remaining groups were treated with a high fat emulsion and turmeric extract 50 mg/kgBW, garlic extract 50 mg/kgBW, curcuminoid 25 mg/kgBW, S-methyl cysteine 25 mg/kgBW,  turmeric-garlic extract combination each 25 mg/kgBW and curcuminoid-S-methyl cysteine combination each 12,5 mg/kgBW for 10 days. Insulin resistance was evaluated by  insulin tolerance test. This study conducted from August–October 2010 at Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB). Results of this study showed that insulin tolerance test constanta (KITT) were bigger in animals that treated with garlic extract (7.2±0.84), curcuminoid (7.14±0.74) and combination of curcuminoid-S-methyl cysteine (7.46±0.64) compared with positive control group (3.2±1.92). In conclusions garlic extract, curcuminoid and combination of curcuminoid and S-methyl cysteine improve insulin sensitivity. [MKB. 2011;43(4):153–9].

Key words: Garlic extract, insulin sensitivity test, turmeric extract

Last Updated on Wednesday, 25 January 2012 08:55
 
Ekspresi Bcl-2 dan Caspase-3 Pascapaparan Hipoksia Hipobarik Intermiten PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 25 January 2012 08:58
Achmad Hidayat,1 Kahdar Wiradisastra,2 Bethy S. Hernowo,3 Tri Hanggono Achmad4
1Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa Dr. Saryanto, 2Departemen Bedah Saraf, 3Departemen Patologi Anatomi, 4Departemen Biokimia 
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung


Abstrak

Hipoksia hipobarik intermiten sering dialami oleh awak pesawat, karena selama di dalam kabin pesawat bernapas dengan tekanan udara yang lebih rendah. Tubuh akan beradaptasi  dengan cara mengikat oksigen lebih banyak dan juga mengurangi dampak hipoksia. Fungsi mitokondria akan terganggu pada hipoksia, yaitu  permiabilitas membran luar mitokondria karena protein Bcl-2 menurun. Jika hipoksia berlanjut akan terjadi kebocoran membran mitokondria, pelepasan sitokrom-c, dan proses apoptosis berlangsung. Penelitian ini bertujuan menganalisis protein Bcl-2 sebagai antiapoptosis dan caspase-3 sebagai indikator apoptosis akibat paparan hipoksia hipobarik intermiten.  Dilakukan penelitian eksperimental pada tikus jantan Spraque Dawley periode Januari–April 2010 dengan melakukan paparan hipoksia hipobarik intermiten satu sampai empat kali dengan interval satu minggu. Jantung tikus dijadikan spesimen untuk dilakukan pemeriksaan ekspresi protein dengan pulasan imunohistokimia  di Departemen Patologi Anatomi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung dan western blot di Bagian Biomolekuler  FK Universitas Indonesia Jakarta. Ekspresi protein Bcl-2 meningkat sesuai dengan frekuensi paparan hipoksia hipobarik intermiten, sebaliknya ekspresi protein caspase-3 menurun (rs=-0,448, p=0,013). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan tingkat apoptosis akibat paparan hipoksia hipobarik intermiten, hal ini disebabkan mekanisme  adaptasi natural yang ditandai dengan menurunnya apoptosis sel dan secara tidak langsung akan memberi efek kardioprotektif. [MKB. 2011;43(4):166–70].

Kata kunci: Apoptosis, Bcl-2, caspase-3, hipoksia hipobarik intermiten


Bcl-2 and Caspase-3 Expression Post Exposure of Intermittent Hypobaric Hypoxia 
 
 
Abstract

Intermittent hypobaric hypoxia often suffered by cabin crew due to the fact that they are breathing lower pressured air inside the plane cabin. Human body will adapt by binding more oxygen and reducing hypoxia effect. Mitochondria function will be irritated by hypoxia which affect, outer mithochondrial membrane permeability due to  decrease of Bcl-2 protein. Later on if hypoxia continues mitochondrial membrane will leaked cytocrome-c will released and apoptotic pathway will occur. The purpose of this study was to analyze Bcl-2 protein as anti-apoptosis and caspase-3 as apoptosis indicator of intermittent hypobaric hypoxia exposure.  Experimental study was subjected to Spraque Dawley male mice during January–April 2010 by exposing them to several intermittent hypobaric hypoxias (one to four treatment) in an interval of one week. Protein expression on mice heart cell were detected by immunohistochemistry in the Department of Pathology Anatomy Padjadjaran University-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung and western blot methods in Department Biomolecullar Indonesia University Jakarta.  Bcl-2 protein expressions increased according with the frequency of intermittent hypobaric hypoxia exposures, while a reverse trend was found for caspase-3 protein expressions (rs=-0.448, p=0.013).  From the study it can be concluded that apoptosis will be decreased as a result of intermittent hypobaric hypoxia exposures, which occurred from natural adaptation mechanism indicated by decrease of  cell apoptosis and cardio protective effect will be emerged. [MKB. 2011;43(4):166–70].

Key words: Apoptosis, Bcl-2, caspase-3, intermittent hypobaric hypoxia 

 
Efek Ekstrak Air Buah Pepaya (Carica papaya L.) Muda terhadap Gambaran Histologi Kelenjar Mamma Mencit Laktasi PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 25 January 2012 08:56
Yuktiana Kharisma,1 Armaya Ariyoga,2 Herri S. Sastramihardja2
1Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung
2Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Kedokteran Dasar Universitas Padjadjaran Bandung


Abstrak

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2005, ASI eksklusif di perkotaan 4−12% dan pedesaan 4–5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L.) terhadap gambaran histologi kelenjar mamma laktasi. Penelitian dilakukan di laboratorium Farmakologi Klinik Unpad dan laboratorium Unit Penelitian Kesehatan RS Dr. Hasan Sadikin pada bulan Juli−September 2009. Penelitian merupakan penelitian eksperimental laboratorium terhadap 21 ekor induk mencit laktasi galur Swiss Webster, diacak menjadi 3 kelompok (n=7) dengan jumlah anak 10 ekor/induk. Kelompok I merupakan kontrol negatif. Kelompok II diberikan luteotropin 6 mg/30 g BB/hari per oral (p.o.) dan kelompok III diberikan sediaan uji 20 mg/30 g BB/hari (p.o.). Peningkatan produksi air susu diketahui melalui peningkatan jumlah dan diameter rata-rata alveoli kelenjar mamma laktasi. Perlakuan diberikan pada hari ke-4 hingga ke-16 masa menyusui. Hasil dianalisis dengan uji analysis of variance (ANOVA), dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian terhadap jumlah alveoli kelompok I: 310,57±30,16; kelompok II: 464,42±25,83 dan kelompok III: 465,14±72,41. Diameter alveoli kelenjar mamma laktasi kelompok I, II, dan III berturut-turut sebesar 296,50±21,27 μ; 394,57±53,97 μ;  dan 384,29±40,40 μ. Simpulan bahwa ekstrak air buah pepaya muda memberikan efek lebih baik dibandingkan dengan kontrol negatif dan sebanding dengan  luteotropin dalam meningkatkan jumlah dan diameter alveoli rata-rata kelenjar mamma laktasi. [MKB. 2011;43(4):160–5].

Kata kunci: Carica papaya L., histologi kelenjar mamma, produksi air susu


Effect of  Unripe  Papaya (Carica papaya L.) Aqueous Extract  on Histological Feature of Mice Lactating Mammary Glands 


Abstract

Breast milk is the best food for infants. Household Health Survey in 2005 showed exclusive breastfeeding were 4–12% in urban and 4–5% in rural areas. Objective of the study was to examine the effect of unripe papaya aqueous extract (Carica papaya L.) on lactating mammary glands histological appearance. The experiment was held on July–September 2009 at Padjadjaran University Clinical Pharmacology Laboratory and Health Research Unit of Dr. Hasan Sadikin Hospital in July–September 2009. A laboratorium experimental study conducted to 21 lactating Swiss Webster mice with 10 babies each. They were divided randomly into 3 groups (n=7). Group I was negative control. Group II: luteotropin 6 mg/30 g BW/day (per oral) and group III: unripe papaya aqueous extract 20 mg/30 g BW/day (per oral). Increased milk production was measured by average lactating mammary glands alveolar amounts and diameter count. Experiment started at 4th–16th lactation day. The result was analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by Tukey test. The average of alveolar amounts of group I, II and III, were 310.57±30.16, 464.42±25.83, and 465.14±72.41, respectively. The average lactating mamary glands alveolar diameter of group I: 296.50±21.27 μ, group II: 394.57±53.97 μ and group III: 384.29±40.40 μ.  Research showed that unripe papaya aqueous extract has better than negative control and equivalent effect with luteotropin on lactating mammary glands histological appearance. [MKB. 2011;43(4):160–5].

Key words: Carica papaya L., histological mammary glands, milk production
 
Uji Fungsional dan Karakteristik Sel Punca Hematopoetik Hasil Isolasi dari Darah Tali Pusat Manusia Menggunakan Metode Modifikasi Unpad-Aster PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 25 January 2012 09:00
Tono Djuwantono,1,2 Firman F. Wirakusumah,1 Leri Septiani,1,2 Ike Kristina,2 Devi Natalia,1 Danny Halim,2 Ahmad Faried2
1Departemen Obstetri dan Ginekologi, 2Grup Peneliti Sel Punca, Unit Penelitian Kesehatan
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung


Abstrak

Metode isolasi sel-sel mononuklear/mononuclear cells (MNCs) dari darah tali pusat (DTP) manusia secara konvensional menghasilkan tingkat kontaminasi sel eritrosit yang sangat tinggi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menilai perbedaan viabilitas dan kontaminasi sel eritrosit dalam populasi MNC DTP pada modifikasi-metode isolasi yang kami kembangkan. Penelitian ini juga bertujuan untuk menguji fungsi dan karakteristik populasi MNCs dari DTP manusia sebagai dasar pembangunan bank darah tali pusat di Indonesia. Penelitian dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari–Oktober 2010. Isolasi MNCs dengan metode modifikasi (dinamakan modifikasi Unpad-Aster) yang menghasilkan 5,1x106 sel/mL memiliki tingkat kontaminasi sel eritrosit yang lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional. Morfologi sel yang dibiakkan dalam medium unrestricted somatic stem cells (USSCs) tampak seperti sel-sel yang adheren (menempel di dasar), berbentuk sel spindle, dengan cluster of differentiation-90 (CD-90) (antigen leukosit) dan cluster of differentiation-105 (CD-105) yang positif serta dapat berdiferensiasi menjadi sel neuron dan adiposit; sedangkan morfologi untuk cord blood-derived multipotent progenitor cells (CB-MPCs) tampak seperti sel-sel fibroblas dengan cluster of differentiation-45 (CD-45) (antigen hematopoetik) yang positif serta dapat berdiferensiasi menjadi sel neuron. Disimpulkan bahwa metode modifikasi Unpad-Aster memberikan tingkat kontaminasi eritrosit yang lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional. Sel mononuklear yang berasal dari darah tali pusat ini dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel neuron dan adiposit. [MKB. 2011;43(4):171–7].

Kata kunci: Darah tali pusat (DTP), diferensiasi, karakterisasi, modifikasi Unpad-Aster, sel mononuklear


Functional Test and Characteristic of Hematopoietic Stem Cells Derived from Human Umbilical Cord Blood Using Unpad-Aster’s Modified Method  


Abstract

The conventional method of mononuclear cells (MNCs) isolation from human umbilical cord blood (UCB) yielded high erythrocyte contamination level. Therefore, the aim of this study was to assess the differences of cell viability and erythrocyte contamination on the population of UCB MNCs in our modified isolation method. This study was also aimed to test the function and characteristic of human MNCs derived from UCB as the basis for the development of UCB banking in Indonesia. The study was conducted in Department of Obstetry and Ginecology RS Dr. Hasan Sadikin Bandung in period of January–October 2010. The modified isolation method (namely Unpad Aster’s modification) yielded 5.1x106 MNC cell/mL has lower erythrocyte contamination level than conventional method. The morphology of MNCs cultured in unrestricted somatic stem cells (USSCs) medium looked like adhered cells (attached at the surface of culture flask), spindle-shaped cells with positive luster of ifferentiation-90 (CD-90) (leukocyte antigen) and cluster of differentiation-105 (CD-105) and could differentiate into neuronal cells and adipocytes. While the morphology of cord blood-derived multipotent progenitor cells (CB-MPCs) looked like fibroblast cells with positive cluster of differentiation-45 (CD-45) (antigen hematopoietic) and could differentiate into neuronal cells. In conclusions, the Unpad-Aster’s modified isolation method gives lower level of erythrocyte contamination compared with conventional method. Mononuclear cells derived from UCB could differentiate into neuronal cells and adipocytes. [MKB. 2011;43(4):171–7].

Key words: Characteristic, differentiation, mononuclear cells (MNCs), umbilical cord blood, Unpad-Aster modification

 
« StartPrev12NextEnd »

Page 1 of 2